Dalam khazanah budaya Tiongkok yang kaya, dunia paralel yang dihuni oleh makhluk halus dan roh-roh penasaran telah menjadi bagian integral dari mitologi dan kepercayaan rakyat selama ribuan tahun. Salah satu konsep yang paling menarik adalah "E Gui" atau hantu-hantu yang terdampar di antara dunia manusia dan alam baka. Artikel ini akan mengupas secara mendalam tentang E Gui dan berbagai entitas mistis lainnya yang menghuni legenda Tiongkok dan budaya serumpun di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
E Gui, secara harfiah berarti "hantu kelaparan," adalah roh-roh yang tidak dapat mencapai reinkarnasi karena berbagai alasan. Menurut kepercayaan Taoisme dan Buddhisme Tiongkok, jiwa-jiwa ini terjebak dalam siklus penderitaan karena karma buruk, kematian yang tidak wajar, atau kurangnya ritual pemakaman yang layak. Mereka sering digambarkan sebagai makhluk kurus dengan perut buncit namun mulut kecil yang tidak dapat menelan makanan, sehingga selamanya merasa lapar. Ritual seperti Festival Hantu (Bulan Hantu) diadakan setiap tahun pada bulan ketujuh penanggalan Imlek untuk menenangkan roh-roh ini dengan persembahan makanan dan doa.
Selain E Gui, terdapat pula Ba Jiao Gui atau "hantu pisang," yang konon merupakan roh wanita yang meninggal dalam keadaan hamil atau melahirkan. Menurut legenda, roh ini sering muncul di sekitar pohon pisang pada malam hari, menangis dan mencari bayi yang hilang. Kepercayaan ini menyebar ke berbagai wilayah Asia, termasuk Indonesia, di mana pohon pisang sering dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh halus. Dalam budaya Jawa, konsep serupa dikenal sebagai "hantu saka" atau roh penunggu pohon yang harus dihormati dengan sesaji tertentu.
Di Indonesia, legenda hantu telah berkembang dengan karakteristik lokal yang unik. Salah satu yang paling terkenal adalah Si Manis Jembatan Ancol, hantu wanita cantik yang konon menghuni jembatan di kawasan Ancol, Jakarta. Menurut cerita rakyat, ia adalah korban pembunuhan yang rohnya tidak tenang dan sering menampakkan diri kepada pengendara malam hari. Kisah ini menjadi contoh bagaimana legenda Tiongkok tentang roh penasaran (seperti E Gui) beradaptasi dengan konteks lokal, menciptakan narasi baru yang tetap mempertahankan unsur-unsur mistis inti.
Nenek Gayung adalah sosok lain dalam folklore Indonesia yang menarik untuk dikaji. Meskipun tidak secara langsung berasal dari mitologi Tiongkok, karakter ini menunjukkan persilangan budaya dalam kepercayaan supernatural. Nenek Gayung sering digambarkan sebagai wanita tua yang muncul di kamar mandi atau sumur, mencerminkan kekhawatiran masyarakat akan keselamatan di tempat-tempat yang dianggap rentan terhadap roh jahat. Konsep ini sejalan dengan kepercayaan Tiongkok tentang roh penjaga alam yang menghuni elemen-elemen tertentu seperti air, tanah, dan api.
Ritual Jelangkung, yang populer di Indonesia, juga memiliki akar dalam tradisi Tiongkok kuno. Jelangkung sebenarnya berasal dari permainan pemanggilan roh yang dikenal sebagai "Jiangshi" atau "hantu kaku" dalam budaya Tiongkok. Ritual ini melibatkan boneka atau alat yang digerakkan oleh roh yang dipanggil untuk menjawab pertanyaan. Meskipun sering dianggap sebagai permainan, banyak yang percaya bahwa Jelangkung dapat membuka pintu ke dunia paralel yang berbahaya, mirip dengan konsep E Gui yang dapat terpanggil jika ritual tidak dilakukan dengan benar.
Hantu Sundel Bolong, meskipun murni berasal dari legenda Indonesia, menunjukkan kemiripan tema dengan cerita-cerita hantu wanita dalam mitologi Tiongkok. Sundel Bolong digambarkan sebagai wanita cantik dengan lubang di punggungnya, sering dikaitkan dengan kematian tragis karena perselingkuhan atau pengkhianatan. Narasi ini beresonansi dengan cerita-cerita Tiongkok tentang "Nü Gui" atau hantu wanita yang meninggal karena patah hati dan kembali untuk membalas dendam. Keduanya mencerminkan ketakutan sosial terhadap pelanggaran norma dan konsekuensi supernaturalnya.
Konsep roh-roh penjaga alam merupakan bagian penting dalam kepercayaan tradisional Tiongkok dan Indonesia. Dalam budaya Tiongkok, dikenal sebagai "Shen" atau dewa-dewa alam yang melindungi gunung, sungai, dan hutan. Sementara di Indonesia, roh penjaga tempat seperti "danhyang" atau "penunggu" dihormati melalui sesaji dan ritual. Kepercayaan ini menekankan harmoni antara manusia dan alam, di mana gangguan terhadap tempat keramat dapat membangkitkan kemarahan roh penjaga, mirip dengan bagaimana E Gui dapat mengganggu manusia jika diabaikan.
Bulan Hantu atau "Ghost Month" dalam kalender Tiongkok adalah periode di mana dunia paralel dipercaya paling dekat dengan dunia manusia. Selama bulan ketujuh Imlek, gerbang neraka terbuka dan roh-roh, termasuk E Gui, berkeliaran di bumi. Masyarakat melakukan berbagai ritual seperti membakar kertas uang, menyajikan makanan, dan menghindari aktivitas berisiko untuk menghormati roh-roh ini. Tradisi ini menyebar ke komunitas Tionghoa di Indonesia, di mana upacara serupa masih dilaksanakan, menunjukkan ketahanan kepercayaan ini meski telah beradaptasi dengan lingkungan baru.
Persamaan antara legenda hantu Tiongkok dan Indonesia menunjukkan pertukaran budaya yang mendalam selama berabad-abad. Baik E Gui maupun hantu lokal seperti Si Manis Jembatan Ancol sama-sama merepresentasikan roh yang tidak tenang karena kematian tragis. Ritual seperti Jelangkung dan sesaji untuk roh penjaga alam mencerminkan upaya manusia untuk berkomunikasi atau menenangkan dunia paralel. Narasi-narasi ini bukan hanya cerita seram, tetapi juga berfungsi sebagai alat pengajaran moral, mengingatkan masyarakat tentang konsekuensi dari perbuatan buruk dan pentingnya menghormati alam serta leluhur.
Dalam dunia modern, minat terhadap dunia paralel dan entitas seperti E Gui tetap hidup melalui media populer. Film, serial televisi, dan literatur terus mengeksplorasi tema-tema ini, sering kali menggabungkan elemen dari berbagai tradisi. Misalnya, cerita tentang Ba Jiao Gui dan Sundel Bolong telah diadaptasi dalam berbagai format, menunjukkan daya tarik universal terhadap misteri supernatural. Namun, di balik hiburan tersebut, kepercayaan tradisional ini tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya bagi banyak komunitas.
Memahami legenda E Gui dan dunia paralel Tiongkok memberikan wawasan tidak hanya tentang kepercayaan supernatural, tetapi juga tentang nilai-nilai sosial, sejarah, dan interaksi budaya. Dari ritual Bulan Hantu yang khidmat hingga cerita-cerita seram tentang Si Manis Jembatan Ancol, narasi-narasi ini mencerminkan kekhawatiran, harapan, dan imajinasi manusia dalam menghadapi misteri kehidupan dan kematian. Mereka mengingatkan kita bahwa, terlepas dari kemajuan teknologi, dunia paralel tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang kaya dan kompleks.
Bagi yang tertarik dengan dunia misteri dan legenda, eksplorasi cerita-cerita seperti E Gui dan Ba Jiao Gui dapat menjadi pengalaman yang menarik. Sementara itu, bagi pencari hiburan lainnya, ada banyak pilihan aktivitas seru seperti bermain di situs slot gacor yang menawarkan pengalaman berbeda. Apapun minat Anda, selalu ada sesuatu yang menarik untuk dijelajahi, baik itu dunia paralel legenda atau keseruan permainan modern.
Dalam konteks kehidupan kontemporer, ritual seperti Jelangkung mungkin telah berubah menjadi permainan, tetapi akar spiritualnya tetap terkait dengan kepercayaan kuno tentang komunikasi dengan dunia lain. Demikian pula, penghormatan terhadap roh penjaga alam terus dilakukan dalam bentuk adaptif, seperti upacara adat sebelum pembangunan proyek besar. Hal ini menunjukkan bagaimana tradisi mistis tetap relevan, meski dalam bentuk yang telah dimodernisasi.
Kisah-kisah hantu dari legenda Tiongkok dan Indonesia, dari E Gui hingga Nenek Gayung, bukan sekadar cerita pengantar tidur. Mereka adalah cermin dari budaya, sejarah, dan psikologi masyarakat. Dengan mempelajarinya, kita dapat memahami bagaimana manusia dari berbagai zaman dan tempat mencoba membuat sense dari yang tak diketahui, menciptakan narasi yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia paralel dalam tapestri kepercayaan yang terus berkembang.